KSEI SIAP HADAPI KUTU Y2K

Hantu Y2K yang siap menggasak sistem komputer mulai 1 Januari 2000 dijamin tak mengganggu penyelesaian transaksi efek. Itu dimungkinkan oleh penerapan business continuity plan (BCP)

Tinggal hitungan minggu, umat manusia memasuki tahun 2000. Tapi, semakin dekat ke tahun terakhir milenium kedua itu, semakin khawatir pula hati banyak orang. Isu Y2K (Year 2 Kilo) alias Year 2000 membuat hati para pengelola perusahaan berteknologi tinggi ketar-ketir.

Mulai 1 Januari 2000, kutu milenium dikabarkan akan membuat komputer tergagap-gagap dan tak mampu membaca angka dengan akurat. Perusahaan yang sangat tergantung pada IT (information technology) bakal kerepotan, karena angka keluar dari komputer akan beda dengan angka yang dimaksud.

Isu kutu milenium juga mengguncang pasar modal, sebuah wilayah yang padat data dan angka. Bagaimana dengan penyelesaian transaksi atau proses serah terima efek yang sudah menggunakan komputerisasi? Akankah Y2K mengancam aktivitas PT KSEI?

Hingga akhir Oktober 1999, kesiapan sistem KSEI telah mencapai 95 persen. Tidak itu saja, lewat Business Continuity Plan (BCP), KSEI memberi jaminan untuk menyuapkan sistem penyelesaian transaksi efek tanpa sistem komputerisasi.

Artinya, jika komputer ngadat, KSEI siap menjalankan kegiatan secara manual. "KSEI sudah mempersiapkan diri untuk menghadapi kondisi terburuk, yakni tak berfungsinya komputer," kata Ery Firmansyah, dirut PT KSEI.

Ada dua alternatif penanganan penyelesaian transaksi menggunakan BCP. Pertama, melalui sistem alternatif. Apabila sistem masternya tidak berfungsi tapi komputernya tetap jalan, maka KSEI akan menggunakan sistem alternatif pengganti, seperti microsoft excel. Meski penyelesaian transaksi menggunakan microsoft excel memakan waktu lebih lama dibanding menggunakan master system penyelesaian, pekerjaan penyelesaian efek masih bisa berjalan.

 

Sedangkan bila sistem alternatif tidak bisa digunakan, KSEI akan menempuh alternatif kedua, yakni melakukan penyelesaian transaksi secara manual. Untuk itu, KSEI akan menambah jumlah personel penyelesaian efek menjadi dua kali lipat dari jumlah yang ada saat ini. Dalam BCP sudah dibuat daftar SDM yang bertanggung jawab untuk menangani alternatif penyelesaian efek secara manual, termasuk pasukan penyelesaian efek yang siap dipanggil kapan saja.

Di samping mempersiapkan langkah penanganan kegagalaan Y2K, KSEI juga melakukan langkah persiapan mulai akhir 1999.

Dokumen-dokumen penting seperti data transaksi anggota bursa yang biasanya hanya disimpan di komputer, akan dicetak.

Untuk transaksi efek yang dilak–sanakan pada 26 Desember 1999 (T+0), misalnya, KSEI akan menerima data perpindahan efeknya pada 28 Desember (T+2) dari PT Kliring Penjaminan Efek Indonesia (KPEI). Biasanya, data dari KPEI akan disimpan di komputer. Namun, untuk mengantisipasi Y2K, semua data dari KSEI akan dicetak dan disimpan sebagai dokumen. Lalu, tanggal 30 Desember (T+4) saat AB menyerahkan saham, datanya juga tidak hanya disimpan di komputer seperti biasa, melainkan akan dicetak sebagai dokumen.

Saat bursa kembali beroperasi tanggal 4 Januari 2000, bila ternyata ada masalah pada komputer penyelesaian efek, KSEI sudah memiliki back up dokumen yang tercetak. Dengan demikian, tidak ada kegagalan penyerahan efek akibat data di komputer KSEI tidak dapat dibuka.

Untuk memastikan BCP itu dapat diaplikasikan dengan baik, tim Y2K KSEI telah mulai melakukan simulasi yang dilangsungkan secara bertahap sejak bulan September. Dengan cara itu, armada KSEI tidak hanya piawai dalam teori, tetapi juga diharapkan berhasil dalam praktek. Karena itu, anggota bursa tak usah khawatir bahwa penyelesaian transaksinya bakal terhambat hanya karena kegagalan sistem akibat millennium bug.

Sementara itu untuk menghindari kemungkinan terburuk dari Y2K ini, jadwal cuti karyawan pun direvisi. Antara 1 Desember 1999 hingga 7 Januari 2000, tak ada karyawan yang diperkenankan untuk cuti.