'SCRIPLESS SETTLEMENT' TAK LANGSUNG LENYAPKAN FISIK SAHAM

Scripless settlement tidak otomatis menghapus semua saham fisik. Broker dan bank kustodian akan mengelola dua jenis efek milik nasabah, yang berbentuk sertifikat dan berwujud data elektronik.

Pemodal yang saat ini mengantongi lembaran saham sebagai aset bergengsi, mungkin mulai khawatir dengan proyek scripless settlement. Meski diakui perdagangan saham akan lebih efisien dan aman dengan scripless settlement, beberapa investor tetap ingin memegang wujud fisik saham. Terutama nasabah jangka panjang yang tidak aktif berjual beli saham. Akankah proyek scripless membuat lembaran saham tinggal kenangan?

Jangan khawatir dulu. Ternyata, setelah scripless trading atau scripless settlement dimulai, tidak semua saham berubah wujud menjadi data elektronik. Masih akan ada saham fisik yang beredar. Anggota Bursa (AB) dan bank kustodian (BK) akan mengelola dua jenis efek. Yakni efek berbentuk fisik dan efek elektronik.

Investor yang tidak ingin mentransaksikan sahamnya bisa tetap memegang wujud fisik saham. Dengan catatan, bila suatu saat sahamnya ingin diperjualbelikan, fisiknya harus diubah menjadi efek elektronik. Caranya mudah, sistem yang ada memungkinkan investor setiap saat mengubah bentuk saham menjadi data elektronik dan menyulapnya kembali ke sertifikat efek fisik.

Pada awal scripless settlement, investor diwajibkan menyetorkan efek fisik untuk diubah menjadi data elektronik. Tetapi, setelah proses scripless settlement berjalan, investor berhak menarik kembali sertifikat efeknya yang berbentuk elektronik menjadi sertifikat fisik. Permohonan penarikan efek ini dapat dilakukan investor melalui AB atau BK yang mengelola efeknya.

PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSE) akan memproses permohonan tersebut dan memasukkan data penarikan efek ke dalam sistem. Bila jumlah saham yang ditarik sesuai dengan data kepemilikan saham investor tersebut, maka KSEI akan melanjutkan proses penarikan efek.

Tetapi, permohonan akan ditolak KSEI, jika efek yang ditarik itu sedang diblokir atau dibekukan karena bermasalah. Atau jika jumlah efek yang ditarik lebih besar dari saldo efek yang ada di rekening efek.

Saham berbentuk fisik yang sedang dalam proses penarikan tidak dapat digunakan untuk transaksi, seperti penyelesaian perdagangan. Namun masih memperoleh entittlement jika ada corporate action.

Bila permohonan penarikan efek disetujui, BAE/emiten akan mengubah catatan kepemilikan dari atas nama KSEI menjadi atas nama investor yang bersangkutan, dan mencetaknya dalam sertifikat fisik berbentuk jumbo. Biaya pencetakan saham jumbo akan ditanggung oleh nasibah yang meminta sahamnya diubah menjadi sertifikat fisik. Setelah saham elektronik kembali berbentuk fisik, posisi efek di rekening efek investor dalam sistem elektronik akan berkurang.

 

Setelah investor membuka rekening efek di AB/BK, dan AB/BK membuka rekening di KSEI, investor dapat melakukan penyetoran efek agar sahamnya dapat diselesaikan secara scripless settlement. Dalam periode ini, AB/BK akan melakukan aktivitas yang disebut penyetoran efek.

Investor akan menyerahkan formulir penyetoran efek kepada AB/BK beserta saham fisik yang dimilikinya. Kemudian AB/BK akan menyetorkan efek nasabahnya ke Emiten/BAE, untuk diubah menjadi efek elektronik. Emiten/BAE akan menyelesaikan proses penyetoran efek dalam jangka waktu lima hari kerja sejak permohonan tersebut diterima, dan mengirimkan konfirmasi penyetoran efek itu ke KSEI.

KSEI akan mencatatkan setiap kali ada penambahan efek dari emiten/BAE dan mengirimkan konfirmasi berupa laporan penyetoran efek ke AB/BK sebagai tanda bukti pencatatan efek dalam rekening efek.

Biaya aktivitas penyetoran efek dan pembukaan rekening efek AB dan BK di KSEI mungkin akan dibebankan kepada masing-masing AB dan BK. Namun, perubahan wujud saham fisik menjadi saham elektronik akan mengurangi penggunaan lemari dan ruangan besi di kantor-kantor broker.

Pengelolaan Efek

Setelah terjadi transaksi efek di bursa, perpindahan kepemilikan saham atau penyelesaian transaksi dilakukan secara elektronik melalui metode book entry settlement atau pemindahbukuan. Sistem penyelesaian yang ada di KSEI akan terintegrasi dengan sistem perdagangan Jakarta Automated Trading System (JATS) yang ada di Bursa Efek Jakarta (BEJ) dan sistem Surabaya Market Information and Automated Remote Trading (S-MART) milik Bursa Efek Surabaya (BES), serta sistem KPEI.

Karena sistem penyelesaian transaksi tanpa warkat ini berbasis pada sistem elektronik yang bersifat on-line, AB dan BK harus melengkapi sistemnya dengan fasilitas down load atau up load data. AB dan BK juga akan melakukan rekonsiliasi atau penyesuaian data antar rekening nasabah dan rekening efek AB dan BK di KSEI setiap hari. Rekonsiliasi juga harus dilakukan secara rutin setiap bulan dan tiap tahun.

Dengan diterapkannya penyelesaian transaksi secara pemindahbukuan, banyak biaya operasional yang bisa dipangkas AB/BK, dibandingkan penyelesaian efek secara fisik. AB dan BK bisa menghemat biaya penyimpanan sertifikat, biaya pencatatan atas inventori efek milik nasabah, biaya petugas kurir untuk menyerahkan dan menerima sertifikat efek serta biaya transportasi petugas kurir dari AB ke BK, KSEI atau sebaliknya. Disamping itu, Perusahaan Efek (PE) bisa menghemat waktu dan tenaga, karena tidak perlu lagi melakukan penghitungan dan memberikan stempel secara manual untuk tiap lembar saham.

 

Tetapi, buka berarti semua biaya penyelesaian transaksi hilang seratus persen. Setelah scripless settlement, AB dan BK perlu menyiapkan dana untuk biaya transfer atau pemindahbukuan nasabahnya bila diperlukan. Juga biaya pemeliharaan sistem software dan hardware yang terhubung dengan sistem KSEI, juga harus dianggarkan, serta biaya untuk petugas operator yang melakukan input instruksi.

Corporate Action

Dalam era scripless settlement, corporate action emiten juga akan dikoordinasikan oleh KSEI bekerjasama dengan AB dan BK. Sebagai pengelola efek nasabah, AB dan BK bertanggung jawab atas hak yang melekat pada efek. Berbagai hak corporate action yang sebelumnya ditangani sendiri oleh investor, seperti pembagian dividen, bunga obligasi, sertifikat bukti right, waran, saham bonus, dan pemecahan saham (stock split) akan ditangani AB dan BK.

Karena itu, meski sudah scripless settlement investor tetap dapat memiliki saham berbentuk fisik, terutama bila ingin menyimpan sahamnya dalam waktu lama dan tidak diperdagangkan.

Di era scripless settlement untuk satu efek yang sama akan ada dua jenis efek yang beredar. Efek yang aktif diperdagangkan berbentuk elektronik, dan yang tidak aktif ditransaksikan berbentuk fisik. Dengan adanya dua jenis efek tersebut, AB dan BK harus menyesuaikan struktur rekening yang dikelolanya. AB dan BK juga harus menyesuaikan prosedur untuk pengelolaan rekening efek fisik dan elektronik, serta proses rekonsiliasi antara rekening nasabah dengan rekening efek di KSEI.

Pembukaan Rekening

Saat scripless settlement dimulai, AB dan BK akan menjadi nasabah KSEI. Pihak yang dapat langsung membuka rekening efek di KSEI adalah perusahaan efek, BK, emiten/BAE, dan PT Kliring Penjamin Efek Indonesia (KPEI).

Nasabah AB dan BK tidak bisa langsung membuka rekening di KSEI. AB dan BK akan mewakili rekening investor di KSEI. Tetapi, AB dan BK harus membedakan rekening efek milik nasabahnya, dengan rekening efek portofolionya sendiri.

AB dan BK yang membuka rekening efek di KSEI akan tercatat sebagai pemegang rekening. Mereka akan menerima entitlement corporate action dari KSEI. Tetapi karena AB berperan sebagai kustodian bagi nasabahnya, maka entitlement tersebut wajib didistribusikan lagi kepada para nasabahnya yang berhak.

Sebaliknya, AB dan BK mewajibkan nasabahnya membuka rekening di perusahaannya. Nasabah akan memperoleh formulir pembukaan rekening dari AB/BK serta surat kontrak bersama yang wajib ditandatangani kedua belah pihak. Untuk mengelola dana nasabahnya, berdasarkan peraturan Bapepam No. VI.A.3 tentang rekening efek pada kustodian. AB/BK diwajibkan membuka rekening khusus di bank atas nama AB/BK untuk kepentingan nasabahnya.

 

Untuk mengetahui jadwal dan pendistribusian corporate action, AB dan BK tidak perlu menghubungi BAE atau emiten yang bersangkutan. Berdasarkan peraturan Bapepam Nomor VI.A.3. tentang rekening efek pada kustodian, dalam waktu satu hari sejak emiten mengumunkan rencana corporate actionm, KSEI akan bertanggung jawab menyampaikan jadwal pendistribusian corporate action itu kepada PE

Waktu yang diperlukan untuk memperoleh hak corporate action bisa dipangkas. Dalam perdagangan saham fisik, apabila nasabah ingin memperoleh hak corporate action, setiap pemegang saham harus meregistrasikan sahamnya di BAE, sebagai bukti saham tersebut benar-benar milik empunya saham. Membutuhkan waktu paling singkat tujuh hari bahkan bisa dua minggu untuk proses registrasi.

Padahal, selama registrasi itu, investor tidak bisa memperdagangkan sahamnya. Bila saham yang dimiliki investor tiba-tiba harganya melejit, pemegang saham tidak bisa mendulang capital gain. Sebaliknya, bila harga saham yang tengah diregistrasikannya anjlok, investor tidak bisa menyelamatkan portofolionya.

Bila scripless settlement dimulai, tidak perlu lagi ada registrasi. Bila ada pembayaran dividen atau pembagian saham bonus, KSEI akan membukukan pembayaran dividen atau saham bonus itu secara otomatis ke rekening AB dan BK. Nanti, masing-masing AB dan BK akan membukukan dividen itu ke masing-masing rekening investor yang berhak menerimanya.

Saat ini menurut Direktur KSEI, Benny Haryanto, AB dan BK harus melakukan pelatihan secara intensif bagi SDM di kedua institusi itu agar mengerti mengenai prosedur dan sistem penyelesaian transaksi tanpa warkat. Sementara untuk back office, lanjut Benny, AB dan BK harus melakukan penyesuaian prosedur aktivitas operasionalnya dengan KSEI, serta mampu mengadministrasikan penyimpanan efek elektronik dan penyelesaian secara pemindahbukuan.

Sementara, untuk pengamanan aktivitas transaksi dan penyelesaian efek, sistem back office AB dan BK harus dilengkapi pula dengan sistem pengendalian interen yang dapat mengontrol aktivitas operasionalnya.