JALAN PANJANG MENUJU SCRIPLESS SETTLEMENT

Banyak tahap harus dilewati menuju era penyelesaian transaksi tanpa warkat. Dan, itu telah dijajaki KSEI dengan komitmen penuh. Apa saja langkah strategis itu?

Proses menuju implementasi penyelesaian transaksi tanpa warkat bak jalan panjang berliku. Banyak pekerjaan rumah yang harus dituntaskan sebelum menyongsong era perdagangan serba canggih itu. Karena itu, komitmen tinggi harus dipegang teguh. Tak boleh ada istilah kendor. Komitmen itulah yang selama ini dipegang teguh KSEI.

Penyelesaian transaksi tanpa warkat dikenal dengan istilah scripless trading namun sesungguhnya, istilah yang lebih tepat adalah scripless settlement. Karena pemindahtanganan kepemilikan saham dengan atau tanpa warkat dilakukan setelah terjadinya perdagangan saham di bursa.

Sebelum mengimplementasikan sistem penyelesaian transaksi seba canggi itu dan tentu serba memudahkan - KSEI harus memulainya dengan merumuskan spesifikasi bisnis yang bakal dikembangkan. Tentu perlu pijakan, biar lebih kuat argumennya. Tak kurang, UU No. 8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal, perturan Bapepam dan blue print pasar modal - meski sedang direvisi - jadi acuannya.

Merumuskan spesifikasi bisnis bukan pekerjaan mudah. Karena itu, KSEI lalu melibatkan para pelaku pasar seperti anggota bursa (AB), bank kustodian (BK), emiten, biro administrasi efek (BAE), dan tak ketinggalan SRO lainnya.

Selanjutnya, KSEI KSEI mengembangkan business overview sebagai pedoman dasar bagi pelaku pasar dengan lima sasaran pokok, merumuskan peran dan tanggung jawab KSEI kedalam dokumen sebagai ready reference bagi partisipan dan publik, menjelaskan konsep dan metode penyelesaian transaksi, memperkenalkan jasa depositori sentral secara komprehensif untuk dijalankan KSEI, memperkenalkan konsep konversi saham dan masa transisi menuju perdagangan tanpa warkat. Dan, memperkenalkan konsep pemindahbukuan transaksi kepada partisipan.

 

Fase kedua boleh disebut masa awal konversi. Investor, broker atau bank kustodian memasuki proses deposit dengan mengajukan permohonan deposit pada emiten atau BAE. Meski penyelesaian perdagangan masih menggunakan sertifikat efek fisik, namun AB sudah mulai melakukan penyetoran efek ke KSEI untuk proses konversi. Beberapa hari menjelang dimulainya perdagangan tanpa warkat, KSEI akan memberikan pengumuman kepada investor dan pemegang rekening untuk mendepositkan efek fisik agar dapat ditransaksikan di hari pertama scripless trading.

Masuk fase ketiga, AB pemegang rekening KSEI masih menempuh proses penyelesaian secara fisik untuk perdagangan yang dilakukan pada fase kedua. Investor pun masih menerima sertifikat efek fisik hasil perdagangannya. Tetapi, perdagangan pada fase ketiga ini akan diselesaikan dengan cara pemindahbukuan (tidak serah terima efek fisik). Pada fase ini, AB dan BK masih menyelesaikan proses penyetoran efek.

Proses konversi selsai pada fase keempat. Pihak terkait tak lagi disibukkan dengan tumpukan saham. Babak baru perdagangan elektronik dimulai. Penyelesaian perdagangan pun menggunakan sistem pemindahbukuan. Hanya saja, kegiatan deposit untuk proses konversi masih tetap dilakukan AB.

Jangka waktu proses konversi tentu berkaitan dengan jumlah saham yang tercatat di bursa dan aktivitas perdagangan. Makin likuid satu saham, makin lama proses recalling, karena dipegang banyak pihak.

Sebelum masuk tahap elektronis, BAE memeriksa keabsahan efek yang disetor. Katakanlah, saham yang diregistrasi atas nama investor A, bukan sertifikat palsu, atau yang dinyatakan hilang dan dicuri. Sertifikat itu pun bukan dalam status digadaikan atau diblokir, karena perkara pidana.

Jika satu sertifikat terbukti valid, BAE akan mengubah catatan kepemilikan efek menjadi efek elektronis yang dicatatkan di KSEI. Jika tidak valid, BAE memberi konfirmasi: "ditolak" pada pemegang rekening dalam hal ini AB/BK.

Sesuai perannya sebagai penyedia jasa depositori sentral, KSEI mengemban empat tanggung jawab pokok. Pertama, jasa pengelolaan rekening. Ada beberapa hal penting disitu seperti pendaftaran partisipan, pembukaan rekening, perubahan data rekening, penutupan rekening efek, pemblokiran rekening efek, inquiry serta laporan.

Kedua, jasa kustodi kolektif. Pada bidang jasa ini KSEI mengurus hal-hal yang berkaitan dengan peyetoran efek (deposit), penarikan efek (withdrawal), pembekuan efek dan rekonsiliasi.

Ketiga, jasa penyelesaian transaksi efek elektronik. Ini pekerjaan rutin berupa one side input, delivery free (DF) atau receive free (RF) serta delivery vs payment (DvP) atau receive vs payment (RvP). Jasa keempat berupa pemenuhan hak pemodal. Hal-hal penting berkaitan dengan hak pemodal berupa dividen dana, dividen efek, bonus, stock split, reverse split, right & warant, merger dan akuisisi, IPO, tender, tagihan, payment, pinjam meminjam efek serta gadai efek.

 

Proses Konversi

Periode konversi saham (recalling period) merupakan periode transisi dari scrip settlement ke scripless settlement. Recalling period di bursa efek Indonesia ditargetkan mulai Maret 2000. Saat ini, sistem scripless settlement ditargetkan telah mulai diimplementasikan.

Hingga kini, ada sekitar 497,5 miliar saham yang tersebar pada berbagai pihak terkait seperti investor, BAE, BK, broker, serta emiten. Jalan menuju konversi harus dilalui dalam empat tahap. Mutlak, tak bisa ditawar.

Langkah pertama, fase persiapan menjelang proses konversi. Agenda ini didahului rapat umum pemegang saham. Dari rapat itu pula muncul pernyataan persetujuan terhadap pengalihan bentuk kepemilikan efek dari fisik menjadi efek elektronik. Dua hal lagi berupa perubahan anggaran dasar emiten dan jadwal dimulainya perdagangan efek elektronik serta penyelesaian perdagangan dengan mekanisme pemindahbukuan. Pada fase ini KSEI sebagai penyelenggara sistem pemindahbukuan akan memberikan pelatihan bagi para pelaku pasar yang terlibat langsung dalam pemakaian sistem tersebut. Selain itu, KSEI juga akan memulai instalasi sistem di AB dan BK yang telah terdaftar di KSEI.

Para investor jangan pernah cemas. Anda akan menerima informasi dari emiten dan KSEI melalui media massa. Bentuk kepemilikan saham yang diakui berupa saham elektronik yang dikelola KSEI. Proses deposit efek untuk merubah efek fisik menjadi efek elektronik dan pihak-pihak yang bisa dihubungi untuk proses deposit sertifikat saham, akan disampaikan emiten.

 

Setelah proses konversi tuntas, investor memasuki era perdagangan tanpa warkat. Satu hal yang tak boleh diabaikan adalah proses pemindahbukuan. Ini bagian teramat penting pada proses penyelesaian transaksi secara elektronik.

Bagian ini merupakan proses pemenuhan hak dan kewajiban sebagai konsekuensi dari satu rangkaian transaksi di bursa maupun di luar bursa atau over the counter (OTC). Caranya? Efek dari rekening A pada kustodian dikurangi secara elektronik, selanjutnya ditambahkan pada rekening B. Tuntas pula proses pemindahbukuan.

Pengembangan Sistem

Pengembangan sistem boleh dibilang bagian paling berat pada proyek menuju scripless trading. Selain business overview, KSEI terus bekerja keras menyiapkan sistem depositori sentral. Pada langkah awal, KSEI meneliti kembali spesifikasi sistem ini lewat program berlabel business requirements study (BRS)

Bebarapa pihak terkait akan dilibatkan secara aktif. Sebut saja, AB, BK, BAE, emiten serta vendor resmi penyedia sistem depositori yang telah dipercayakan pada CIMAD-CAPCO.

Langkah pertama telah coba dirintis sejak 15 hingga 23 Maret 1999. Selama periode itu, tim KSEI bersama tim CIMAD-CAPCO melaksanakan gap analysis. Sasarannya untuk mengidentifikasi perbedaan pada sistem standar milik CIMAD-CAPCO dengan sistem ideal yang diinginkan KSEI.