TANTANGAN BERAT DI TENGAH KRISIS

Visi dan strategi Direksi KSEI di masa sulit

Kendati sudah hampir lima bulan bekerja, tampaknya tetap perlu bagi FOKUSS untuk memperkenalkan Dewan Direksi PT. KSEI. Mungkin sebagian besar pembaca FOKUSS sudah mafhum bahwa sejak 26 Oktober 1998 lalu melalui Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) di Financial Club, KSEI resmi mendapat tim direksi baru. Ketiga anggota dewandireksi terdahulu yang sudah memimpin KSEI sejak perusahaan ini berdiri. Yakni, Isakayoga (Dirut) dan dua direktur Rita Mas’oen dan Sutito. Sedangkan tim baru yang memimpin KSEI adalah Erry Firmansyah yang menjadi Direktur Utama dengan didampingi dua direktur: Eddy Sugito dan Benny Haryanto.

Jelas, ada tantangan berat yang menghadang Dewan Direksi KSEI. Salah satu yang terbesar, sekadar menyebut contoh, adalah penerapan scripless trading saat krisis moneter melanda negeri kita. Kendati demikian, bagi sebagian orang, makin berat tantangan yang mesti dihadapi makin besar pula semangat yang timbul. "Ini adalah tantangan, sebab central depository itu di tiap negara pasti cuma ada satu. Saya tentu senang bisa terlibat langsung dalam pengembangan central depository di Indonesia," demikian kata Benny Haryanto. Gambaran senada juga diungkap oleh anggota dewan direksi lainnya. Itu sebabnya, mereka tidak segan menerima tawaran sebagai Direksi KSEI kendati masa kerja di KSEI cuma tiga tahun. Sedangkan para anggota dewan direksi ini sebelum bergabung di KSEI semuanya sudah mapan dalam posisi direktur di tempat bekerja sebelumnya.

Pasar Modal Indonesia masih bertahan

Selain tantangan yang besar, bagi Erry persiapan scripless trading adalah sebuah kesempatan untuk ikut memberikan sumbagan bagi pengembangan bursa saham di Indonesia. "Saya sadar ini tanggung jawab yang sangat berat," katanya kepada FOKUSS.

Bagi mereka, pasar modal Indonesia adalah industri yang baik dan masih bertahan dibanding sektor keuangan lainnya. Jadi, krisis moneter yang sedang melilit bukanlah alasan untuk menghentikan pengembangan.

 

 

Perkembangan politik yang mendekati pemilu juga bukan merupakan halangan. Bahkan, Benny punya pandangan agar agenda partai politik manapun bisa memasukkan pengembangan pasar modal. Dengan demikian partai apa pun yang memenangkan pemilu nanti tak akan menghentikan pengembangan pasar modal.

Rasa optimisme yang senada juga diungkapkan oleh Eddy Sugito. "Nilai transaksi yang turun naik sekarang ini kan cuma karena country risk kita sedang tinggi," kata Eddy yakin. Untuk mengoptimalkan potensi itu, salah satu cara yang sangat penting di mata Eddy adalah dengan mengoptimalkan kualitas SRO.

Salah satu cara peningkatan kualitas SRO tentu adalah efisiensi. Itu sebabnya, ketiga anggota Dewan Direksi ini kendati diwawancarai secara terpisah tetap menjawab dengan satu kata kunci: peningkatan efisiensi KSEI. Tentu banyak hal yang bisa dikerjakan dalam melakukan efisiensi. Misalnya, melakukan reengineering proses kerja sehingga lebih efisien. Saat ini konsep business process reengineering (BPR) memang tengah menggejala di seluruh dunia sejalan dengan meningkatkan kompetisi global. Selain proses kerja yang harus terus berubah, sumber daya manusia yang ada tentu juga harus proaktif menghadapi perubahan.

Ujung-ujungnya, proses ini akan bermuara pada terobosan-terobosan baru yang bisa dimanfaatkan oleh KSEI dan seluruh klien yang dilayaninya. "Misalnya, sistem baru untuk menangani Sertifikat Bukti Right," kata Erry. Langkah ini jelas membuat emiten bisa menghemat ongkos cetas sertifikat. Selain itu, KSEI pun tengah menyiapkan pelbagai program untuk meningkatkan kepercayaan investor. "Kasus saham hilang, misalnya, harus segera diselesaikan agar kepercayaan masyarakat tetap tinggi," kata Erry. Untuk itu, atas permintaan beberapa broker, KSEI akan menyiapkan counter khusus agar mereka lebih leluasa memeriksa saham yang diterima. "Ini namanya pelayanan dengan nilai tambah," Eddy menambahkan.