Menjinakkan Bom Timbunan Saham

Jantung Scripless trading system adalah sebuah sistem depositori sentral yang handal. Inilah cerita perburuan sistem itu.

Pasti, ada satu soal yang sekarang menjadi salah satu tumpuan harapan pelaku pasar agar pasar modal Indonesia bisa bergeliat lagi di masa krisis: penerapan scripless trading system. Ini adalah sebuah keharusan. Bayangkan saja, sampai akhir Januari lalu jumlah saham yang tercatat di Bursa sudah mencapai 158 miliar saham. Penyelesaian transaksi yang tetap dilakukan secara manual pasti bakal menimbulkan masalah.

Hingga kini, penyelesaian transaksi memang seperti muara yang macet dalam proses perdagangan saham. Sebab, proses transaksi saham di hulunya malah sudah modern. Sejak 1995 Bursa Efek Jakarta (BEJ) sudah menggunakan the Jakarta Automated Trading System (JATS) sebagai wahan perdagangan.

Lantaran sudah menggunakan komputer, JATS mampu menangani hingga 50.000 transaksi dalam sehari. Memang, rata-rata jumlah transaksi di bursa dalam sehari belum mencapai angka sehebat itu. Tapi, katakanlah, rata-rata cuma sekitar 12.000 transaksi yang terjadi setiap hari seperti sekarang-sekarang ini, tetap saja aliran transaksi seperti ini bakal menimbulkan kemacetan pada proses penyelesaiannya.

Apa boleh buat, perdagangan saham di Indonesia masih menggunakan sistem perdagangan secara fisik. Dus, proses penyelesaiannya makan waktu dan tak bisa efisien. Surat-surat kolektif saham secara fisik mesti bolak-balik dikirim dari investor ke kantor broker penjual, lalu dikirim lagi ke KSEI, berikutnya dikirim lagi ke kantor broker pembeli, baru setelah itu kirim lagi ke investor yang membeli. Bayangkan kalau dalam proses yang panjang ini ada perampokan atau surat kolektif sahamnya hilang. Bahkan persoalan sesederhana gelas kopi yang tumpah pun bisa merusak mata rantai yang sama sekali tak boleh putus ini.

 

Pencarian sistem kustodian sentral yang terampuh yang ada saat ini sebenarnya sudah dimulai sebelum KSEI sendiri terbentuk, 23 Desember 1997 lalu. Sebelum itu Lembaga Kliring dan Penjaminan serta Lembaga Penyimpanan dan Penyelesaian (LKP-LPP) sudah bekerja sama dengan Citibank London meneliti sistem apa yang paling cocok untuk menunjang sistem kustodian sentral saham. Sebagaimana biasa, langkah pertama yang dibuat dalam pencarian sistem seperti ini adalah penyusunan dokumen yang lazim disebut sebagai request for information (RFI).

RFI inilah yang lantas dikirimkan ke pelbagai vendor. Dalam RFI itu sudah terinci secara jelas kriteria apa saja yang harus dimiliki oleh sistem kustodian sentral yang diperlukan oleh bursa Jakarta. Sekadar menyebut beberapa contoh, titik-titik perhatian yang terpenting untuk sistem kustodian sentral itu adalah:

  • Kemampuan sistem itu dalam menunjang bursa

  • Kehandalan teknologinya

  • Bagaimana kemampuannya berpadu dengan sistem-sistem komputer lain yang sudah ada di bursa

  • Bagaimana dukungan teknis dari vendor

  • Kecepatan implementasi sistem itu di bursa

Walhasil, setelah mengevalusi dokumen-dokumen yang sudah diserahkan vendor, tim gabungan ini merekomendasikan empat vendor untuk dievaluasi lebih jauh. Ke empat vendor itu adalah: CIMAD, TATA, TANDEM dan TIBCO.

 

 

 

Dus, kesimpulannya, scripless trading atawa sistem perdagangan tanpa warkat adalah sebuah keharusan kalam pasar modal Indonesia mau maju. Memang, kita sedang terlanda krisis. Tapi masa kita tidak yakin bahwa krisis ini suatu saat pasti berakhir. Itu artinya persiapan ke arah pengembangan scripless trading harus tetap berjalan.

Perburuan sudah dimulai sebelum KSEI berdiri

Disinilah letak peran penting yang mesti dimainkan oleh PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI). Scripless trading system tak lagi mengenal saham yang secara fisik mondar-mandir dari satu kantor ke kantor lain. Semua saham tanpa kecuali (bila sistem sudah diterapkan secara menyeluruh) mesti dikonversi dari sertifikat fisik ke data elektronik dalam sebuah sistem penyimpanan sentral. Perpindahan kepemilikan saham-saham yang diperjual-belikan hanya ditandai dengan perpindahan saham-saham itu secara maya atawa virtual dari rekening satu ke rekening yang lain. Hebatnya semua rekening itu berada dalam sebuah sistem besar dan terpusat yang menjadi tanggung jawab KSEI.

Fakta ini menunjukkan, sistem kustodian sentral yang bakal menunjang scripless trading ini harus benar-benar ampuh. Jelas, jumlah yang tercatat bakal bertambah. Belum lagi tren belakangan ini yang menunjukkan minat emiten untuk menerbitkan saham dengan nilai nominal Rp 10 per saham. Artinya, jumlah saham bakal makin menggunung. Tanpa sistem kustodian yang handal, gunung ratusan miliar saham ini bisa menjadi bom waktu. Itu sebabnya tak berlebihan kalau kita ibaratkan sistem kustodian sentral ini sebagai jantung scripless trading bila beroperasi kelak.

 

Akhirnya CIMAD yang tepilih

Setelah KSEI berdiri, sebuah tim KSEI melanjutkan evaluasi untuk sistem kustodian sentral ini. Salah satu hal penting yang mesti dilakukan pertama kali oleh tim ini adalah menyusun spesifikasi bisnis KSEI sesuai dengan Undang-undang Nomor 8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal Tentu saja, tim ini juga harus menyesuaikan spesifikasi bisnis ini dengan peraturan Badan Pengawas Pasar Modal (Bapepam) yang berlaku, Cetak Biru Pasar Modal Indonesia, dan juga masukan dari pelbagai pihak. Spesifikasi bisnis ini lantas diserahkan kembali kepada ke empat vendor yang tersisa tadi.

Berikutnya, setelah mengakomodasikan spesifikasi bisnis KSEI, keempat vendor tadi melakukan presentasi produk-produk mereka kepada KSEI, KPEI, dan juga beberapa wakil pemegang saham. Lebih jauh lagi, tim KSEI juga melakukan klarifikasi untuk menyelidiki kualitas sistem, kualitas manajemen proyek, dukungan dan komitmen vendor, termasuk pula biaya dan mekanisme penyelesaian finansial sistem tersebut.

Ternyata, cuma tiga vendor yang kemudian menyampaikan tanggapan. Ketiganya dalam CIMAD, TIBCO, dan TANDEM. Dari sini tim lantas mengevaluasi lagi pelbagai informasi tambahan tersebut dan memutuskan untuk memasukkan CIMAD dan TIBCO sebagai dua calon kuat yang bisa diteliti lebih lanjut (shortlisted). Tim KSEI lalu mengunjungi dua vendor yang sudah shortlisted ini.

Dari proses yang panjang inilah akhirnya tim KSEI memutuskan untuk memilih CIMAD sebagai vendor resmi yang akan menyediakan sistem kustodian sentral di Indonesia. Keputusan ini juga mendapat persetujuan dari wakil para pemegang saham. Berakhirlah sudah perburuan jantung sistem kustodian sentral di Indonesia. Dalam waktu dekat, KSEI akan menandatangani kontrak dengan CIMAD untuk penyediaan sistem ini.