Inilah Dia si Mahameru

Memperkenalkan cikal bakal scripless trading

Tanpa banyak yang menyadari, rekapitalisasi perbankan bisa menimbulkan pekerjaan yang tak ringan di pasar modal. Bayangkan, bila semua bank yang listing di bursa ramai-ramai menerbitkan saham dengan nilai nominal Rp. 10 per saham bahkan Rp. 5 per saham seperti rencana Bank Danamon, betapa meledaknya jumlah saham yang diperdagangkan.

Masih ada lagi persoalan, bagaimana dengan sertifikat bukti right atas saham-saham itu. Seperti diketahui, pola rekapitalisasi tampaknya akan mengikuti pola Bank Lippo, yakni lewat right issue. Dampak yang bisa diprediksi dari rencana ini adalah menumpuknya sertifikat saham secara fisik. Itu sebabnya KSEI sekarang melakukan langkah pro aktif mengatasi masalah ini.

Jalan keluar yang sekarang tengah dikembangkan adalah sistem Mahameru yang merupakan singkatan dari (sisteM immobilisAsi HAk Memesan Efek teRlebih dahulU). Sistem ini bertujuan untuk meminimalisir pencetakan sertifikat Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (HMETD) dan mengefisiensikan penyelesaian transaksi HMETD tersebut.

Boleh dibilang, sistem ini adalah buang langkah awal menuju ke arah penerapan scripless trading system di pasar modal Indonesia. "Mungkin bisa disebut sistem semi scripless," kata Direktur Utama KSEI di depan para wartawan pasar modal yang mengikuti presentasi tentang program ini, 10 Maret lalu. Pada dasarnya, sistem ini sudah mirip dengan scripless trading. Cuma, sistem in belum menggunakan saham yang menjadi underlying assets, tapi menggunakan sertifikat bukti right.

Akan ada SBR Jumbo

Secara sederhana, mekanisme Mahameru itu bisa dijelaskan begini: Berdasarkan Daftar Pemegang Saham (DPS) yang diterbitkan oleh Emiten, Emiten/BAE akan menerbitkan sertifikat HMETD dalam bentuk jumbo. Ini berarti bahwa setiap investor akan menerima satu lembar sertifikat HMETD dengan nilai denominasi yang sesuai dengan nilai HMETD yang terdapat dalam DPS. Sampai di sini sepertinya sama saja. Nah letak perbedaannya dengan sistem yang berlaku sekarang adalah pada proses berikutnya.

Untuk dapat diperdagangkan di bursa, maka sertifikat jumbo yang dipegang oleh investor harus didepositkan terlebih dahulu ke KSEI. Maka terjadilan imobilisasi sertifikat bukti right. KSEI sebagai pihak yang akan mengelola sertifikat HMETD yang telah terimobilisasi tadi akan mencatatkan posisi efek di bawah pengelolaan partisipan. Yang menjadi partisipan dalam hal ini adalah Anggota Bursa dan Bank Kustodian.

 

Tentu saja, investor tak perlu langsung datang ke KSEI. Investor dapat menyerahkan sertifikat jumbo HMETD ke partisipan KSEI (Anggota Bursa dan Bank Kustodian). Setiap waktu pada jam kerja partisipan dapat meminta KSEI untuk mendepositkan sertifikat jumbo fisik dan mencatatkannya ke dalam bentuk sertifikat yang terimobilisasi dengan menyerahkan formulir permohonan yang dilampiri dengan sertifikat jumbo fisik. KSEI dengan petugas dari Emiten/BAE akan memeriksa apakah sertifikat yang didepositkan memenuhi kondisi ‘good delivery’.

Sertifikat jumbo yang diserahkan oleh partisipan dapat ditolak untuk didepositkan apabila petugas Emiten/BAE meragukan keabsahan sertifikat tersebut. Bila sudah terimobilisasi, maka sertifikat dari jenis dan klasifikasi yang sama dianggap sepadan dan dapat dipertukarkan antara satu dan yang lain. Inilah yang disebut dengan azas fungibility. Dus, nasabah tak dapat menuntut pemilikan suatu sertifikat berdasarkan nomor, seri atau ciri-ciri tertentu.

Bila proses ini sudah beres, maka perdagangan bisa dimulai. Pada saat proses penyelesaian transaksinya kelak, settlement perdagangan sertifikat HMETD dilakukan secara pemindahbukuan. Yang dimaksud dengan pemindahbukuan disini adalah dipenuhinya hak dan kewajiban yang timbul akibat adanya transaksi bursa yang dilaksanakan dengan cara mengurangi posisi efek dari rekening yang satu dan menambah posisi efek pada rekening yang lain pada KSEI secara elektronik. Jelas kan, proses ini sebenarnya sudah sama persis dengan prinsip dasar scripless trading system.

Berdasarkan instruksi investornya atau untuk keperluan exercise HMETD, partisipan dapat mengajukan permohonan ke KSEI untuk memproses penarikan HMETD sebelum masa transaksi HMETD tersebut berakhir. Pada akhir masa transaksi HMETD, KSEI akan menyerahkan daftar investor pemegang HMETD yang berada di bawah pengelolaan KSEI berikut sertifikat jumbo efek yang masih tersimpan di vault ke Emiten/BAE.

Nah, kapankah sistem Mahameru ini dimulai? Ini memang masih tergantung pada kesiapan emiten dalam melakukan right issue. Sebagaimana diketahui, pemerintah baru mengumumkan bank-bank mana saja yang akan mengikuti program rekapitulasi 12 Maret lalu. "Kami menunggu, bagaimana kebijakan pemerintah soal rekapitulasi ini," Erry menjelaskan.